Senin, 19 Maret 2012

Benarkah, Keseringan Masturbasi Sebabkan Dengkul Kopong ?

Masturbasi sepertinya sudah menjadi hal yang biasa dilakukan pria. Tidak sedikit pria yang melakukannya bahkan ada yang kecanduan. Karena kebiasaan ini, beberapa pria sering merasakan nyeri di daerah lutut atau dengkul yang diduga disebabkan karena keseringan masturbasi. Benarkah demikian?

Tidak ada batasan yang pasti tentang seberapa sering pria boleh masturbasi. Meski dipengaruhi banyak faktor termasuk usia, ada beberapa pendapat yang menyebut frekuensi ideal untuk ejakulasi adalah 2-3 kali seminggu baik melalui masturbasi maupun hubungan seks yang sesungguhnya.

Bila berlebihan, ada yang percaya bahwa masturbasi bisa menyebabkan nyeri pada lutut atau dikenal dengan dengkul kopong. Namun hal tersebut dibantah oleh banyak para ahli.

"Masturbasi tidak akan menyebabkan nyeri apapun pada lutut. Nyeri dan bunyi pada lutut bisa disebabkan oleh tulang kecil di depan lutut yang disebut Patela, yang menjadi ketat ketika Anda duduk atau tidur dengan lutut dilipat," jelas Dr. Sarveshwar Chander Sood, dokter bedah ortopedi dari Punjab, India, seperti dilansir healthcaremagic, Senin (19/3/2012).

Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Andri Wanananda MS, seksolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta.

Menurutnya, masturbasi hanya berakibat ejakulasi dini pada pria sedangkan pada wanita hingga saat ini belum ada laporan penelitian tentang efek negatifnya.

"Tidak benar bila onani bisa membuat lutut kopong atau tubuh bertambah tinggi, itu hanya mitos. Lutut kopong lebih karena masalah gangguan di sendi sedangkan tinggi badan tergantung dari gizi, aktivitas selama masa pertumbuhan serta faktor genetik," jelas Dr. Andri Wanananda MS, dalam konsultasi kesehatan detikHealth.

Nyeri lutut merupakan salah satu keluhan yang sering terjadi. Penyebab nyeri lutut dapat karena cedera lutut yang mengakibatkan robekan pada ligamen (pengikat sendi) atau cedera yang menyebabkan kerusakan jaringan tulang rawan sendi.

Penyakit-penyakit tertentu juga dapat menyebabkan nyeri lutut seperti arthritis, asam urat dan infeksi sendi.

Kamis, 15 Maret 2012

Kenapa Hari Kamis Waktu Terbaik Untuk Bercinta ?

Peneliti mengklaim hari Kamis adalah waktu terbaik dalam seminggu untuk bercinta atau berhubungan seksual. Apa alasannya hari Kamis sebagai waktu terbaik untuk melakukan hubungan seksual?

Hubungan seksual yang sehat dan menyenangkan seringkali mempengaruhi keharmonisan rumah tangga. Banyak penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan hubungan seksual yang sehat dan menyenangkan bagi pasangan.

Dari makanan terbaik hingga waktu terbaik yang dapat meningkatkan hubungan seksual telah diteliti oleh para peneliti. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui cara meningkatkan hubungan seksual yang sehat dan harmonis bagi pasangan.

Kenapa hari Kamis diklaim sebagai waktu terbaik untuk melakukan hubungan seksual?

"Tingkat kortisol alami yang merangsang hormon seks, berada pada tingkat tertinggi pada hari Kamis, terutama pada Kamis pagi. Kadar testosteron pada pria dan kadar estrogen pada wanita tertinggi berada pada hari Kamis tepatnya pagi hari, yaitu 5 kali lebih tinggi. Selain itu, pada hari Kamis biasanya orang tidak sedang merasa stres sehingga memiliki suasana hati yang mendukung untuk melakukan hubungan seksual," kata para peneliti seperti dilansir dari Medindia, Kamis (15/3/2012).

Hal tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari London School of Economics.

Sedangkan hari terbaik untuk melakukan hubungan seksual ketika mencoba untuk hamil adalah hari dimana seorang wanita melihat adanya lendir atau cairan serviks yang paling subur. Lendir serviks yang subur adalah debit serviks yang menyerupai putih telur mentah dan biasanya muncul pada hari sebelum ovulasi.

Hal tersebut merupakan hasil penelitian lain yang juga meneliti mengenai waktu terbaik untuk melakukan hubungan seksual.

Namun, kadang sebagian orang begitu terobsesi mengenai berhubungan seksual pada waktu yang tepat, dan mengabaikan hubungan seksual pada waktu lain. Sehingga hubungan seksual mulai terasa lebih seperti pekerjaan rumah atau kewajiban. Hubungan seksual yang seperti itu biasanya kurang disertai dengan cinta. Hal tersebut dapat menyebabkan tekanan besar pada hubungan.

Berdasarkan hasil penelitian lain menyatakan bahwa, hubungan seksual selama 6 hari sebelum ovulasi memang memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk menyebabkan kehamilan.

"Kulitas dan kuantitas sperma dapat sangat menurun setelah 10 hari tidak melakukan hubungan seksual sama sekali atau pantang. Puncak dari kualitas dan kuantitas sperma adalah setelah 1 atau 2 hari tidak melakukan hubungan seksual," kata para peneliti.